SAAT KERAGUAN BERTEMU DENGAN KASIH KARUNIA

Bacaan: Hakim-Hakim 6:33-37

Nats Alkitab: 

“Lalu Gideon berkata kepada Allah: ‘Jika Engkau benar-benar hendak menyelamatkan Israel dengan perantaraanku, seperti yang telah Kaukatakan itu…’”

(Hakim-Hakim 6:36)

Di tengah bayangan ketakutan dan keraguan, Gideon dipanggil. Bukan sebagai pahlawan gagah berani, tapi sebagai petani yang sedang mengirik gandum secara sembunyi-sembunyi—takut pada musuh, ragu pada dirinya sendiri. Namun justru di sanalah Tuhan datang: bukan saat kita siap sempurna, tetapi saat kita jujur dalam kelemahan.

Allah tidak marah ketika Gideon meminta tanda. Ia tidak menegur karena keraguannya. Sebaliknya, Ia sabar. Ia membungkus kebenaran ilahi dalam bahasa manusia: bulu domba yang basah dan tanah yang kering—lalu sebaliknya. Ini bukan soal kurang iman, melainkan proses di mana hati yang gentar belajar percaya.

Kita pun sering seperti Gideon. Ingin taat, tapi takut gagal. Ingin percaya, tapi butuh kepastian. Dan Tuhan? Ia tetap setia. Ia tidak menuntut keyakinan yang sempurna, hanya kerendahan hati yang mau datang kepada-Nya—dengan segala pertanyaan, kekhawatiran, dan doa yang sederhana.

Iman bukanlah ketiadaan keraguan, melainkan keberanian untuk tetap melangkah meski masih ada tanda tanya. Seperti Gideon, kita diundang bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih karunia-Nya yang cukup bagi yang lemah.

Doa:

Ya Bapa yang penuh kemurahan,
terima kasih karena Engkau tidak menolak kami saat kami ragu.
Bantulah kami seperti Engkau menolong Gideon — menjadi alat damai-Mu, meski kami rapuh.
Ajar kami percaya, bukan karena kami mengerti segalanya, tetapi karena kami tahu Engkau setia.
Dalam nama Yesus, Tuhan kami. Amin.



Masuk untuk meninggalkan komentar