POHON DI TEPI AIR: RAHASIA TETAP HIJAU DI MASA KERING

Bacaan: Yeremia 17
Nats Alkitab Pilihan: Yeremia 17:7-8 (TB2)

"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak takut datangnya panas terik..."

Bayangkan dua buah pohon. Pohon pertama tumbuh di padang gurun yang gersang, akarnya pendek, dan daunnya menguning karena hanya mengandalkan embun yang sesekali lewat. Pohon kedua tumbuh tepat di tepi aliran sungai yang dalam; daunnya tetap hijau royo-royo meskipun matahari membakar di atasnya. Mengapa? Karena rahasianya bukan pada apa yang ada di atas tanah, melainkan pada ke mana akar itu merambat.

Secara Topikal, Yeremia 17 membagi manusia ke dalam dua kategori besar:

  1. Mengandalkan Manusia (Ayat 5-6): Alkitab menyebut orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri, hartanya, atau koneksinya sebagai "semak bulus di padang belantara." Kelihatannya hidup, tapi saat krisis datang, ia akan kering karena ia mengandalkan "daging" (kekuatan fana) sebagai senjatanya.
  2. Mengandalkan Tuhan (Ayat 7-8): Orang ini menaruh harapannya hanya pada Tuhan. Hasilnya? Ia tidak takut datangnya panas terik (masalah ekonomi, krisis kesehatan, atau tekanan hidup) dan ia tidak berhenti menghasilkan buah.

Secara Narasi, seringkali kita tanpa sadar memindahkan akar kita dari tepi air ke padang gurun. Kita merasa lebih aman saat saldo rekening penuh daripada saat berlutut dalam doa. Kita merasa lebih tenang saat punya relasi dengan orang berpengaruh daripada saat bersandar pada janji Tuhan. Yeremia mengingatkan bahwa "hati itu licin" (ayat 9). Kadang kita merasa sudah mengandalkan Tuhan, padahal sebenarnya kita sedang mengandalkan strategi kita sendiri.

Kabar baiknya, Tuhan adalah Penyelidik hati (ayat 10). Dia rindu kita kembali merambatkan akar kita ke dalam kasih-Nya. Masa kering atau "panas terik" pasti datang dalam hidup setiap orang, namun bagi mereka yang akarnya melekat pada Sang Air Hidup, masa sulit itu justru menjadi masa di mana kekuatan Tuhan paling nyata terlihat. Mari cek akar kita hari ini: Ke mana ia merambat?

5 Pertanyaan Refleksi (Diskusi Kelompok)
  1. Heart Check: Dalam sebulan terakhir, saat masalah datang, apa hal pertama yang secara otomatis Anda andalkan: strategi Anda atau hikmat Tuhan?
  2. Identifikasi: Apa saja bentuk "padang belantara" (sumber kekuatan palsu) yang paling sering menggoda Anda untuk tidak mengandalkan Tuhan sepenuhnya?
  3. Ketahanan: Mengapa orang yang mengandalkan Tuhan "tidak kuatir dalam tahun kering"? Pernahkah Anda mengalami kedamaian di tengah situasi yang secara logika seharusnya membuat Anda stres?
  4. Akar yang Merambat: Bagaimana cara praktis kita "merambatkan akar" ke tepi air di tengah kesibukan pekerjaan atau studi yang sangat padat?
  5. Buah: "Tidak berhenti menghasilkan buah." Buah roh apa (kasih, sukacita, kesabaran) yang paling sulit Anda hasilkan saat Anda sedang mengalami "panas terik" kehidupan?
Doa Penutup 

Tuhan Yesus, Sang Air Hidup, kami bersyukur karena Engkau adalah sumber yang tidak pernah kering. Ampunilah kami jika selama ini kami lebih sering mengandalkan kekuatan kami sendiri, koneksi kami, atau harta kami. Hari ini kami mau merambatkan kembali akar iman kami hanya kepada-Mu. Jadikan kami seperti pohon yang tetap hijau dan berbuah bahkan di masa-masa sulit, supaya melalui hidup kami, nama-Mu dimuliakan. Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar