MENJAGA RITME DI TENGAH BADAI

Bacaan: 1 Tesalonika 5:16-22

Nats Alkitab: 1 Tesalonika 5:16-22 (TB2)

(16) Bersukacitalah senantiasa. (17) Tetaplah berdoa. (18) Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (19) Janganlah padamkan Roh, (20) dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (21) Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (22) Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

Bayangkan Anda adalah aktor utama dalam sebuah film. Suatu hari, Anda datang ke lokasi syuting dan melihat set berantakan. Hujan turun deras padahal seharusnya adegan panas terik. Katering makanan terlambat. Semuanya kacau.

Secara manusiawi, naluri kita adalah: Marah, mengeluh, dan mogok kerja. Namun, tiba-tiba Asisten Sutradara (Rasul Paulus) datang membawa memo dari Sutradara Utama (Tuhan). Memo itu berisi instruksi aneh: "Tetap tersenyum, terus bicara dengan Sutradara melalui Walkie-Talkie, dan ucapkan terima kasih untuk kekacauan ini."

Mustahil? Mari kita bedah naskahnya.

1. Scene 1: Respons yang Tak Masuk Akal (Ayat 16-18)

Dunia mengajarkan: "Bersukacitalah kalau situasinya enak." Tuhan mengajarkan: "Bersukacitalah senantiasa."

Mengapa? Apakah kita harus berpura-pura bahagia saat sakit atau bangkrut? Tidak. Dalam kacamata Sovereignty of God (Kedaulatan Allah), kita bersukacita dan bersyukur bukan karena musibahnya, tapi karena kita tahu Siapa yang memegang kendali di balik musibah itu.

Ini seperti aktor yang percaya penuh pada Sutradara. Walaupun adegannya adalah "jatuh ke jurang", ia tahu ada tali pengaman yang kuat. Ia bersyukur karena ia tahu adegan ini penting untuk ending cerita yang mulia. Doa yang tak putus-putus (ayat 17) adalah walkie-talkie kita yang selalu on—koneksi batin dengan Tuhan di tengah kesibukan, memastikan kita tidak salah langkah.

2. Scene 2: Jangan Matikan Lampu Studio (Ayat 19-20)

Paulus berkata, "Jangan padamkan Roh." Bayangkan di tengah syuting malam hari, seseorang iseng mematikan genset lampu. Gelap gulita. Syuting berhenti.

Roh Kudus adalah api dan terang di hati kita. Dialah yang memberi passion dan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan. Seringkali, api itu padam karena kita menyepelekan Firman Tuhan (nubuat). Ketika khotbah terasa membosankan atau teguran terasa keras, kita menutup telinga. Itu sama saja mematikan lampu. Akibatnya? Kita berakting dalam kegelapan, menabrak sana-sini.

3. Scene 3: Proses Editing (Ayat 21-22)

Setiap film bagus pasti melewati proses editing. Gambar yang buram dibuang, gambar yang tajam disimpan. Ayat 21 berkata: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik."

Di zaman sekarang, banyak sekali "naskah palsu" beredar—ajaran sesat, hoax, atau gaya hidup yang terlihat keren tapi merusak. Sebagai orang Kristen yang cerdas, kita harus punya pisau bedah untuk memilah:

  • Apakah ini sesuai Alkitab? (Pegang yang baik).
  • Apakah ini membawa dosa? (Jauhkan segala jenis kejahatan).

Seperti editor film yang tega membuang adegan jelek demi kualitas film, kita juga harus tega membuang kebiasaan buruk demi kualitas iman kita.

Inti Ceritanya: Saudaraku, hidup ini adalah panggung kemuliaan Allah (Theatrum Gloriae Dei). Apapun adegan yang sedang Anda mainkan hari ini—apakah itu drama air mata atau komedi tawa—lakukanlah instruksi Sutradara ini: Tetap gembira, tetap terkoneksi (doa), dan tetap bersyukur. Karena itulah skenario terbaik yang Tuhan tuliskan khusus untuk Anda.

Doa Penutup

Mari kita berdoa.

Bapa Kami yang di Sorga, Sang Penulis Agung kisah hidup kami.

Kami datang dengan rendah hati, menyadari bahwa seringkali kami adalah aktor yang buruk. Kami sering mengeluh ketika "adegan" hidup kami tidak sesuai keinginan kami. Kami sering lupa naskah dan berjalan dengan kekuatan sendiri. Ampunilah kami, Tuhan.

Hari ini, kami mau belajar untuk taat pada arahan-Mu. Roh Kudus, nyalakanlah api semangat di hati kami agar kami mampu bersukacita, bahkan di tengah air mata. Mampukan kami untuk mengucap syukur, bukan karena kami kuat, tapi karena kami percaya Engkau berdaulat atas segala keadaan.

Berikan kami hikmat untuk menguji segala sesuatu—membedakan mana yang emas murni dan mana yang sampah duniawi. Tolong kami membuang segala bentuk kejahatan agar hidup kami menjadi tontonan yang memuliakan nama-Mu.

Terima kasih untuk skenario indah yang sedang Engkau kerjakan dalam hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Sutradara dan Juruselamat kami yang hidup, kami berdoa. Amin.



Masuk untuk meninggalkan komentar