Nats Alkitab:
Kisah Para Rasul 9:40-41 "Tetapi Petrus menyuruh semua orang keluar di luar, lalu ia berlutut dan berdoa. Sesudah itu ia berpaling ke mayat itu dan berkata: 'Tabita, bangkitlah!' Maka ia membuka matanya dan sesudah melihat Petrus, ia duduk."
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali menilai manusia dari pencapaian besar, kekayaan, atau pengaruhnya, kisah Tabita datang seperti angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Ia bukan tokoh politik, bukan pemimpin militer, bukan juga nabi besar. Ia hanya seorang perempuan biasa—murid Yesus—yang hidupnya diisi dengan hal-hal kecil: menjahit baju, memberi makan yang lapar, menghibur yang berduka.
Namun, ketika ia meninggal, seluruh kota Yope berduka. Janda-janda datang menangis, memegang jubah yang pernah ia jahit—bukan sebagai barang, tapi sebagai kenangan kasih yang tak tergantikan. Di mata Allah, tidak ada perbuatan baik yang terlalu kecil untuk diingat. Kasih yang tulus, meski diam-diam dilakukan, meninggalkan jejak abadi di hati sesama.
Dan lihatlah: Allah menggerakkan Petrus—rasul utama—untuk datang hanya demi satu nyawa. Bukan karena Tabita hebat dalam ukuran dunia, tetapi karena hidupnya adalah cerminan kasih Kristus. Bahkan kematian pun ditundukkan oleh kuasa doa dan iman. Tabita dibangkitkan, bukan hanya untuk hidup kembali, tetapi agar kasihnya terus mengalir—dan agar banyak orang melihat kuasa Allah dan percaya.
Hidup kita mungkin tidak akan masuk buku sejarah dunia. Tapi di dalam komunitas kecil kita—keluarga, gereja, lingkungan—kasih yang kita tabur bisa menjadi benih iman bagi orang lain. Dan siapa tahu? Seperti Tabita, kehidupan kita yang penuh belas kasihan bisa menjadi alat Tuhan untuk membawa banyak jiwa kepada-Nya.
5 Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi Kelompok
- Apa bentuk “perbuatan baik” kecil yang bisa kita lakukan setiap hari, seperti yang dilakukan Tabita?
- Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kasih kita tidak hanya terlihat di saat-saat besar, tetapi juga dalam keseharian yang biasa?
- Mengapa reaksi janda-janda terhadap kematian Tabita begitu emosional? Apa pelajaran tentang dampak hidup kita terhadap orang lain?
- Dalam konteks masa kini, bagaimana kuasa doa dan iman masih relevan dalam menghadapi kematian, kehilangan, atau krisis?
- Apakah ada “Yope” dalam hidup kita—komunitas tempat kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih Allah? Bagaimana kita merespons panggilan itu?
Doa Penutup
Ya Bapa yang penuh belas kasihan,
terima kasih karena Engkau menghargai setiap perbuatan baik, sekecil apa pun itu di mata dunia.
Bentuklah hati kami menjadi seperti Tabita— murid-Mu yang setia, yang mencintai dengan tangan dan hati.
Ajar kami untuk tidak menunggu momen besar, tapi mulai hari ini, menabur kasih dalam hal-hal sederhana.
Dan ketika kami lemah, ingatkan kami bahwa kuasa-Mu bekerja melalui iman, doa, dan ketaatan yang rendah hati.
Dalam nama Yesus, yang hidup dan membangkitkan yang mati, amin.
KETIKA KASIH MENJADI WARISAN ABADI