CINTA YANG BERANI BERKATA "TIDAK"

Bacaan: Matius 10:37
Nats Alkitab: Matius 10:37 
"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."


Ada saatnya dalam hidup, menjadi orang beriman berarti menjadi orang yang paling tidak dimengerti.
Bayangkan ilustrasi seorang ayah yang sedang berdiri di tengah badai. Bukan badai di luar rumah, melainkan badai di dalam ruang tamunya sendiri. Anak sulungnya ingin menikah dengan seseorang yang tidak mengenal Tuhan. Istrinya setuju, anak-anaknya yang lain mendukung. Hanya sang ayah yang menggelengkan kepala. Bukan karena ia benci, tetapi karena ia sangat mengasihi Tuhan dan keluarganya.

Banyak orang mengira bahwa kasih berarti selalu berkata "Ya" agar semua orang senang. Namun, Yesus mengajarkan prinsip The Primacy of the Kingdom ( Matius 6:33, Matius 10:37-38,  Lukas 14:26, Filipi 3:8,  Lukas 9:59-60) — bahwa Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya harus menjadi yang nomor satu, di atas segalanya, bahkan di atas keharmonisan keluarga sementara.

Ketika seorang ayah menolak pernikahan tidak seiman, ia sedang melakukan tugas tersulitnya sebagai imam: menjaga gerbang ( 1 Tawarikh 9:23,  2 Tawarikh 23:19,  Mazmur 84:11). 
Ia tahu bahwa jika fondasi rumah tangga anaknya tidak dibangun di atas Kristus, maka badai kehidupan di masa depan akan sangat sulit dihadapi. Ia memilih untuk "tidak populer" di mata istri dan anak-anaknya hari ini, agar ia tetap setia di mata Tuhan selamanya.

Mungkin saat ini Anda merasa sendirian. Istri menjauh, anak-anak kecewa. Namun ingatlah, ketaatan pada Firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan tidak meminta Anda untuk menjadi kejam, tetapi Ia meminta Anda untuk menjadi saksi kebenaran. Tetaplah mengasihi keluarga Anda dengan lembut, tetapi jangan gadaikan perintah Tuhan demi kedamaian semu. Berdirilah teguh, sebab Tuhan ada di pihak mereka yang memilih menyenangkan hati-Nya lebih dari manusia.

5 Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi Kelompok:
  1. Mengapa seringkali lebih sulit untuk taat kepada Tuhan ketika tantangannya datang dari keluarga sendiri?
  2. Menurut Anda, apa perbedaan antara "keras kepala karena ego" dengan "teguh karena keyakinan Firman"?
  3. Bagaimana cara tetap menunjukkan kasih sayang kepada anak tanpa harus mengorbankan prinsip kebenaran yang kita pegang?
  4. Apakah kita pernah tanpa sadar menempatkan kebahagiaan anggota keluarga di atas perintah Tuhan? Apa dampaknya?
  5. Kekuatan apa yang kita perlukan dari Roh Kudus agar tetap setia saat menjadi satu-satunya orang yang bertahan pada kebenaran?
Doa

Bapa di Surga, kuatkanlah setiap ayah yang saat ini sedang berdiri teguh membela kebenaran-Mu di dalam keluarganya. Berikanlah hikmat agar ia mampu berkata-kata dengan kasih namun tetap tanpa kompromi. Jamahlah hati istri dan anak-anaknya agar mata rohani mereka terbuka untuk melihat indahnya ketaatan. Biarlah rumah tangga kami menjadi milik-Mu sepenuhnya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.


Masuk untuk meninggalkan komentar