Nats Alkitab Pilihan:
"Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!" (Yeremia 45:5a)
Bayangkan Anda telah bekerja keras, mempertaruhkan nyawa, dan setia mendampingi seseorang dalam visi yang sulit, namun hasilnya justru kekacauan. Itulah yang dialami Barukh, juru tulis Nabi Yeremia. Dalam Yeremia 41, kita melihat gambaran kelam: pengkhianatan Ismael, pembunuhan Gedalya, dan ketakutan yang mencekam rakyat. Di tengah kehancuran moral dan fisik bangsa Yehuda, Barukh merasa lelah secara mental. Ia mengeluh, "Celakalah aku!"
Barukh merasa Tuhan menambah kesedihan di atas penderitaannya. Namun, Tuhan menjawabnya dengan teguran yang penuh kasih. Tuhan seolah berkata, "Barukh, Aku sedang meruntuhkan apa yang Aku bangun dan mencabut apa yang Aku tanam. Di saat dunia ini sedang hancur, mengapa engkau masih sibuk memikirkan ambisi pribadi, kenyamanan, atau posisi besar untuk dirimu sendiri?"
Seringkali kita seperti Barukh. Kita melayani Tuhan, namun di sudut hati terdalam, kita masih mengejar "hal-hal besar"—pengakuan, stabilitas finansial, atau kesuksesan yang terlihat mata. Yeremia 45 mengajarkan kita tentang Ambisi yang Kudus. Tuhan tidak menjanjikan Barukh takhta atau kekayaan; Tuhan hanya menjanjikan satu hal: nyawanya sebagai jarahan. Artinya, di tengah badai sedahsyat apa pun, penyertaan Tuhan adalah upah yang paling cukup. Kesetiaan jauh lebih berharga daripada ambisi pribadi.
5 Pertanyaan Refleksi untuk Diskusi Kelompok:
- Apa "hal besar" yang selama ini diam-diam Anda kejar di balik aktivitas pelayanan atau pekerjaan Anda?
- Mengapa sering kali kita merasa lelah dan kecewa saat hasil pelayanan tidak sesuai dengan ekspektasi pribadi kita?
- Melihat kekacauan di Yeremia 41, bagaimana seharusnya sikap anak Tuhan dalam merespons lingkungan yang penuh pengkhianatan?
- Apa artinya "memiliki nyawa sebagai jarahan" dalam konteks kehidupan kita yang serba kompetitif saat ini?
- Bagaimana cara kita mengubah fokus dari "mencari hal besar bagi diri sendiri" menjadi "mencari kemuliaan Tuhan"?
Doa:
Bapa di Surga, ampuni kami jika sering kali ambisi pribadi kami menutupi kehendak-Mu. Ajarlah kami untuk merasa cukup dengan penyertaan-Mu. Di tengah dunia yang sedang goyah ini, teguhkan hati kami untuk tetap setia meski tanpa tepuk tangan manusia. Biarlah hidup kami sepenuhnya menjadi milik-Mu. Amin.
BERHENTI MENGEJAR MIMPI BESAR DI DUNIA YANG SEDANG RUNTUH?